OM SWASTYASTU

Selamat Datang Di Blog nak Blog.

Minggu, 01 Januari 2012

ASTA KOSALA-KOSALI dan ASTA BUMI

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI.

                    Yang dimaksud dengan Asta kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa/symbol pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih(tingkatan), dan hiasan.
                     Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.
                     Aturan tentang asta kosala dan asta bumi ditulis oleh pendeta Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Penyarikan.

                   
Asta bumi menyangkut pembuatan pura atau sanggah merajan adalah sebagai berikut:
  1. Tujuan asta bumi. 
          a. Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Ida Sanghyang Widhi Wasa,
          b. mendapat vibrasi kesucian.
          c. Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi. 

     2. Luas halaman:

          a. Memanjang dari timur ke barat.
Ukuran yang baik adalah: panjang (dalam ukuran "depa" yaitu bentangan tangan lurus  dari kiri ke kanan dari pimpinan atau klian atau jero mangku atau orang suci lainnya).     2, 3, 4, 5, 6, 7, 11, 12, 14, dan 15 depa.
Lebar dalam ukuran depa:                                                                                                      1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 11, 12, 14, dan 15 depa.
Alternatif luas dalam depa:
2 X 1, 3 X 2, 4 X 3, 5 X 4, 6 X 5, 7 X 6, 11 X 7, 12 X 11, 14X12, 15  X 14, 19 X 15.

b. Memanjang dari utara ke selatan:
Ukuran yang baik adalah:
Panjang dalam ukuran depa:  4, 5, 6, 13, dan 18 depa.
Lebar dalam ukuran depa : 5,6, dan 13 depa.
Alternatif luas dalam depa:  6 X 5, 13 X 6, 18 X 13.
Jika halaman sangat luas, misalnya untuk membangun padmasana kepentingan orang banyak seperti Pura Jagatnatha dll, boleh menggunakan kelipatan dari alternatif yang tertinggi kelipatan itu : 3 kali, 5 kali, 7 kali, 9 kali, dan 11 kali.  Misalnya: untuk halaman memanjang dari timur ke barat, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah 3X(19X15), 5X(19X15), 7X(19X15), 9X(19X15), 11X(19X15). Untuk halaman memanjang dari utara ke selatan, alternatif luas maksimum adalah kelipatan: 3X(18X13), 5X(18X13), 7X(18X13), 9X(18X13), 11X(18X13).

Hulu -Teben.

 " Hulu" artinya arah yang utama, sedangkan " Teben" adalah hilir atau arah yang berlawanan dengan hulu. Ada dua patokan mengenai hulu, yaitu:
1. Arah timur, dan
2. Arah Kaje.
          Mengenai arah timur, bisa diketahui dengan tepat dengan menggunakan kompas. Arah kaje adalah letak gunung/bukit. Cara menentukan lokasi pura adalah menetapkan dengan tegas arah hulu, artinya jika memilih arah timur sebagai hulu, agar benar-benar timur yang tepat, jangan melenceng ke timur laut atau tenggara. Jika memilih kaje sebagai hulu, selain melihat gunung/bukit juga perhatikan kompas. Misalnyajika gunung berada di arah utara sesuai kompas, jangan sampai melenceng kearah timur laut/barat laut, demikian seterusnya. Pemilihan arah hulu yang tepat sesuai dengan mata angin akan memudahkan pelaksanaan upacara dan arah pemujaan.


Bentuk Halaman.

Bentuk halaman pura adalah persegi empat sesuai dengan ukuran asta bumi.


PEMBAGIAN HALAMAN.
Untuk pura yang besar menggunakan pembagian halaman menjadi tiga, yaitu:
1. Utama Mandala.
adalah bagian yang paling sakral, terletak paling hulu, menggunakan ukuran asta bumi, dan dibangun pelinggih-pelinggih utama.
2. Madya Mandala.
adalahbagian tengah, menggunakan ukuran asta bumi yang sama dengan utama mandala. Di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang, misalnya: Bale Gong, Perantenan(dapur, suci), Bale kul-kul, Bale Pesandekan(tempat menata banten ), Bale Pesamuan ( tempat rapat ), dll.
3. Nista Mandala.
adalah bagian teben, boleh menggunakan ukuran yang tidak sama dengan utama dan madya mandala, hanya saja lebar halaman tetap harus sama. Di nista mandala ada pelinggih " Lebuh" yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya penjual makanan.
          Batas antara nista mandala dan Madya mandala adalah " Candi Bentar", batas antara madya mandala dan utama mandala adalah " Gelung Kori".


MENETAPKAN PEMEDAL.

Pemedal adalah gerbang, baik berupa candi bentar maupun gelung kori.
Cara menetapkan pemedal:
1. Ukur lebar halaman dengan tali.
2. Panjang tali dibagi 3.
3. Sepertiga ukuran tali dari arah teben adalah "as" pemedal.
          Dari as ini ditetapkan lebarnya gerbang, apakah setengah depa atau satu depa, tergantung dari besar dan tingginya bangunan candi atau gelung. Yang dimaksud dengan teben dalam ukuran pemedal ini adalah arah yang bertentangan dengan hulu dari garis halaman pemedal pura, misalnya: hulu halaman pura ada di timur, maka teben dalam menetapkan gerbang tadi adalah utara, kecuali di utara ada gunung/bukit maka tebennya selatan dst. Penetapan gerbang candi bentar dan gelung kori ini penting untuk menetapkan letak pelinggih sesuai dengan asta kosala.

Jarak Antar Pelinggih.

               Jarak antar pelinggih yang satu dengan yang lain dapat menggunakan ukuran " satu depa", "kelipatan satu depa", "telung tapak nyirang", atau "kelipatan telung tapak nyirang". Yang dimaksud dengan " telung tapak nyirang" adalah jarak dari susunan rapat tiga tapak kaki kanan dan kiri (dua kanan dan satu kiri) ditambah satu tapak kaki kiri dalam posisi melintang. Baik depa atau tapak yang digunakan adalah dari orang yang dituakan dalam kelompok "penyungsung" (pemuja) pura. Jarak antar pelinggih dapat juga menggunakan kombinasi dari depa dan tapak, tergantung dari harmonisasi letak pelinggih yang mencakup jarak dari tembok batas ke pelinggih-pelinggih. ketentuan-ketentuan  jarak itu juga tidak selalu konsisten, misalnya jarak antar pelinggih menggunakan tapak, sedangkan jarak ke piyasan dan pemedal menggunakan depa. Ketentuan ini juga berlaku bagi bangunan dan pelinggih di madya mandala.

Pelinggih (stana) yang dibangun.


    
           Jika bangunan inti hanya padmasana, sebagaimana tradisi yang ada di luar pulau bali, maka selain padmasana dibangun juga pelinggih " taksu" sebagai niyasa pemujaan Dewi Saraswati yaitu saktinya Brahma, dan juga "pangrurah" sebagai niyasa pemujaan Bhatara Kala, yaitu putra Siwa yang melindungi manusia dalam melaksanakan kehidupan di dunia. Bangunan lain yang bersifat sebagai penunjang adalah "piyasan" yaitu bangunan tempat bersemayamnya niyasa Hyang Widhi ketika hari piodalan, dimana diletakkan juga sesajen (banten) yang dihaturkan. "Bale Pameosan" adalah tempat sulinggih memuja.







          Jika ingin membangun sanggah pamerajan yang lengkap, bangunan niyasa yang ada dapat "turut" 3,5,7,9,dan 11. "Turut" artinya berjumlah.
a. Turut 3                : 1. Padmasari.
                                 2. Kemulan Rong 3 (pelinggih Hyang Guru/Tiga sakti : Brahma, Wisnu, Siwa.
                                 3. Taksu. 
                                 Jenis ini digunakan oleh tiap keluarga di rumahnya masing-masing.
b. Turut 5                : Turut 3 ditambah:
                                 4. Pangrurah.
                                 5. Baturan Pengayengan, pelinggih untuk memuja Ista Dewata yang lain.
c. Turut 7                 : Turut 5 ditambah:
                                  6. Limas Sari (Gunung Agung).
                                  7. Limas Catu (Gunung Lebah).
                                  Yang dimaksud dengan Gunung Agung dan Gunung Lebah (batur) adalah 
                                  simbolisi  Hyang Widhi dalam manifestasi yang menciptakan "Rwa Bhineda" 
                                  atau dua hal yang berbeda, misalnya: lelaki dan perempuan, siang dan malam 
                                  dll.
d. Turut 9                 : Turut 7 ditambah :
                                  8. Sapta Petala.
                                  9. Manjangan Saluang.
 Sapta petala adalah pelinggih untuk memuja Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi yang menyebabkan makhluk hidup dapat hidup. Manjangan Saluang adalah pelinggih untuk memuja Mpu Kuturan sebagai Maha Rsi yang sangat berjasa mempertahankan Agama Hindu di Bali.
e. Turut 11                : Turut 9 ditambah:
                                   10. Gedong Kawitan.
                                   11. Gedong Ibu.
                                    Gedong kawitan adalah pelinggih untuk memuja leluhur laki-laki yang pertama
                                    datang ke bali dan yang mengembangkan keturunan. Gedong Ibu adalah 
                                    pelinggih untuk memuja leluhur dari pihak wanita (istri kawitan).

          Cara menetapkan pelinggih-pelinggih itu sesuai dengan konsep Hulu dan Teben, dimana yang diletakkan di hulu adalah padmasari/padmasana. Sedangkan yang untuk diteben adalah pelinggih berikutnya sesuai dengan turut. Bila halamannya terbatas sedangkan pelinggihnya banyak, maka letak bangunan dapat berbentuk L yaitu berderet dari pojok hulu ke teben kiri dan ke teben kanan.

Sumber : 
Bhagawan Dwija.
Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija
Warsa Nawa Sandhi, Gerya Tamansari, Lingga Ashrama
Jl. Pantai Lingga, Banyuasri, Singaraja-Bali.
Telp. (0362) 22113, 27010. Hp. 08179719864.
          
    
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar